MAU JADI APA?! BERAT ATAU BERAT KALI
Sebelumnya pernah terfikir. Suatu masalah itu adalah titik nadir terendahku. Ternyata yang dulu. Hanya hal kecil. Sekarang adalah titik nadirnya. Kukira. Entah besok lusa berfikir apalagi.
Subuh itu aku di titik tak tau harus berbuat apa. Doa. Selalu. Atau sebenarnya aku lalai untuk berdoa? Entahlah. Kesibukan dunia membuat lalai untuk meminta. Sering. Padahal doa itu yang menjadi tempat aman akan semua urusan dunia ini. Maaf Allah.
Subuh itu aku menangis terisak membawa anak anakku. Isak tangis. Anak anak yang tak paham. Namun mungkin berjejak di ingatan mereka. Mobilnya berasap. Hati hancur. Cuma 1 yang kuingat. Ini harus tetap berlangsung. Aku ingin menyelamatkan mereka. Aku ingin menjadi dokter yang baik dan benar. Aku ingin menjadi benar benar dokter. Namun...
Jika keinginan ini menjadi tidak abdiku pada suami. Tidak abdiku menjadi ibu.
Aku ikhlas. Berat. Tapi akan kucoba.
Diam. Tak ingin orang lain tau. Doa. Hanya meminta. Aku tak tau harus apa. Aku hanya meminta kepada sang pemberi nikmat. Kepada Allah yang dekatnya. Lebih dekat dari urat nadiku.
2 hari tak sampai. Solusi dapat.
Terima kasih kepada guruku. Yang menjadi solusi. Untuk pendidikan dan menjadi ibu dan istri. Terima kasih kepada orang tua ku. Yang memberiku jalan keluar.
Allah. Terima kasih.
Selang beberapa hari. Masi terisak setiap mengingat.
Aku bukan wanita ambisius. Aku hanya penikmat senyuman mereka yang kutemu dan bertanya bagaiman sudah sehat? Kita pulang ya. Senyuman yang selalu mengucapkan terima kasih dokter.
Aku tak perduli mereka berfikir apa. Tapi tak bisa. Disini semua dinilai.
Aku tak peduli mereka menanggap apa.
Aku hanya bahagia melihat meraka. Pernah mereka bilang kami perpanjang tangan tuhan untuk menyembuhkan. Yang menyembuhkan tetap Allah. Kami hanya pelaksana. Kata yang lainya
Doa. Guruku dulu perna bilang. Saya selalu berdoa untuk pasien pasien saya. Yang sudah sehat. Yang masi berobat. Yang sudah meninggal. Dulu kupikir. Terlalu. Pasien saja sampai masuk kedalam doa
Sekarang. Aku berdoa. Semoga mereka sehat. Semoga mereka senang. Semoga Allah selalu melindungiku.
Ternyata rasa ini. Amat sangat senang.
Kalau mereka menganggapku. Bodoh. Meremehkanku. Teledorku. Tak teliti ku.
Aku akan berubah untuk pengobatan pasienku. Bukan untuk dipandang wow oleh manusia. Apalah kalian. Apalah aku. Bukan kita. Dia.
Minta kepadaNYA. Dekatkan diri kepadaNYA. Jangan terlalu ambisius untuk dunia. Kadang aku muak. Sangant muak. Terlalu ingin dilihat oleh mata manusia. Bagiku itu yang tak berguna. Bagi mereka itu yang paling berguna.
Kita berbeda kawan

Comments
Post a Comment