Finally, offically pulmonologist
Agustus, 2025
Tahun 2025, tahun ter-pasrah yang kurasakan, disini mulai bisa menerima, pasrah, let it flow, terserah angin berhembus mengiringiku kemana, terserah arus membawaku kemana. Aku. Pasarah ya robb.
Disaat ini pula semuanya terjadi. Mulai dari hasil tesis yang di terima. Tanpa mengulang. This is real? Bahkan Aku gak punya foto. Karna apa. Karna aku juga tidak mengira ini akan terjadi secepat itu. Dilanjutkan dengan Try out untuk ujian nasional, semua seperti. Mimpi. Mimpi indah yang ingin dirasakan setiap residen. Tapi tidak untuk diulang. Pastinya.
Setelah lika liku yang menurutku sangat berat. Sangat sangat berat. Try Out dan jadwal jaga yang begitu padat, dan satu hal yang harus ku ingat. Disaat itu pula tak ada ART yang menolongku. Kurva dari try out menjadi ujian. Melandai.
Menangis. Pasti. Mengadu.
Ingat sekali aku, waktu itu tengah malam, entah pukul berapa tepatnya. Tangis itu meledak. Untungnya. Untungnya ku menikahi laki laki yang luar biasa. Suport system terbaik yang datangnya dari Allah. Solutif sekali. Semua jawabanya dapat. Hati yang dilunakan oleh Allah untuk menerima keadaan. Terima kasih Allah. Terima kasih kak!
Kurva itu naik lagi! Dan yang tak terduga lagi. Sulawesi i’m coming. Ujian Nasional di Makasar. Siapa yang menduga, siapa yang mengira. Angin sedang membawa ku ke arah Losari. Indah sekali. Mimpi rasanya. Berempat kami Ujian nasional. Setiap sore ku minta kepada mereka ke losari alhamdulillah mereka mau. Indah betul rasanya. Namun penuh ketegangan. Ujian nasional. Rasa itu. Sungguh wow.
Di karantina 3 hari, tanpa HP, 2025 tanpa hape hanya buku, dan mereka yang penuh dengan buku di isi kepalanya. Sejenak terpikir olehku, sampai juga aku di titik ini ya Allah, pertanyaan kenapa yang selalu tak bisa hilang di benakku, renungan dalam isi kepala, fleshback kenapa aku harus menjadi dokter. Munafikkah aku, ketika ku katakan ini tidak tentang duit? Bukankan rezeki itu sudah diatur olehNya? Sampai sini aku baru menyadari. Ini adalah tentang takdir. Sejauh ini aku berjalan. Takdir membawaku menjadi seorang pulmonologist. Bismillah. Disini kita mulai kembali. Restart!

Comments
Post a Comment